(+62) 8129-2229-212

BSD Serpong, Tangerang Selatan

Spirit Ramadan : Interelasi dan Interdependensi Puasa dan Produktivitas

Penulis : Suradi, SE, MM, CPS-FMMB

Analisa kondisi yang ada (ANAKONDA). Tahukah kita bahwa Indonesia memiliki populasi Muslim terbesar di dunia?  Berdasarkan berbagai perkiraan demografis terbaru, sekitar 87% penduduk Indonesia memeluk agama Islam.

Perkiraan jumlah umat Islam saat ini (2025) :
Sekitar 247 juta orang Muslim di Indonesia dari total penduduk sekitar 282 juta. Dari data tersebut dapat diformulakan bahwa dari setiap 10 orang di Indonesia, sekitar 8–9 orang beragama Islam.

 

Tantangan kita. Sesuai sumber data kontan.co.id Jakarta (2025) bahwa Indonesia memiliki Indeks Produktivitas Nasional sebesar 74,4.   Kalau kita komparasikan dengan dari rata-rata ASEAN 78,2 maka Indonesia masih di bawah rata-rata ASEAN. Bagaimana bila dibandingkan dengan negara tetangga. Ternyata Indeks Produktivitas Nasional Indonesia  tertinggal dari Philippina 86,3. Singapura 82,7. Thailand 80,1 dan Vietnam 80,0.

Di sisi lain yang menjadi tantangan kita bahwa jumlah pengangguran di Indonesia berkisar 7,28 juta orang. Ada lagi data yang membuat keprihatinan kita adalah angka prevalensi penyalahguna narkoba di Indonesia tahun 2026 ini telah mencapai 2,11% setara dengan 4,1 juta jiwa. Berdasarkan hasil survei pevalensi penyalahgunaan narkoba di Indonesia masih menunjukan kondisi yang memprihatinkan dan menjadi ancaman serius bagi ketahanan keluarga dan generasi muda bangsa serta kepemimpinan umat. Lebih dari itu peredaran narkoba saat ini tidak hanya terjadi di wilayah perkotaan namun telah merambah hingga ke desa-desa, menjangkau kelompok masyarakat yang semakin luas dan rentan.

 

Approach. Allah berfirman dalam surat Al  Baqarah ayat 183.  “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS 2 : 183)

 

Dalam firman Allah tersebut tersurat dan tersirat learning point  bahwa pada dimensi hasil  tujuan utama puasa menjadi manusia yang bertakwa. Hal ini bisa diaktualisasikan dalam sikap dan perilaku disiplin, jujur dan bertanggung jawab. Bagaimana untuk mewujudkan the ultimate goal menjadi orang yang bertakwa maka Allah memberikan panduan, pedoman,  tuntunan dan tatanan dalam dimensi proses yaitu beriman dan berpuasa di bulan Ramadan.

Spirit puasa Ramadan banyak menginspirasi dan memotivasi kita untuk meningkatkan keshalehan individual sehingga banyak umat Islam yang memakmurkan masjid dengan menjalankan berbagai aktivitas ibadah antara lain sholat fardhu berjamaah, sholat Taraweh, bertadarus Quran (program One Day One Juz), perbanyak dzikir dan doa, menghadiri majlis ilmu melalui kajian inspirasi jelang berbuka puasa,  inspirasi Taraweh dan hikmah Subuh. Selain itu ada penguatan keshalehan   sosial dengan berbagai aktivitas bermuatan sosial kemasyarakatan  mulai berkontribusi menyediakan ifthor berbuka puasa, berbagi sembako, bingkisan lebaran dan lainnya. Ada satu lagi yang terkait dengan peningkatan keshalehan profesional dengan beberapa indikator :  ketaatan terhadap  aturan (disiplin waktu), objektivitas, loyalitas dalam menjalanlkan amanah, akuntabilitas dalam bekerja,  kejujuran, integritas dan transparansi.

Sebagai learning point  spirit puasa dengan peningkatan keshalehan menuju ketakwaan adalah melakukan hablum minallah (hubungan hamba dengan Allah secara vertikal), hablum minannas (hubungan sesama manusia dan makhluk lainnya  secara horizontal) dan hablum minal’alam (hubungan manusia dengan alam dan  lingkungan) untuk menjaga ekosistem lingkungan dan melestarikannya.

Allah berfirman dalam surat Al Asr ayat 1 s.d 3 yang artinya “Demi masa, (2) sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,(3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS 103 : 1-3)

Sebagai learning point yang tersurat dan tersirat dalam surat Al Asr tersebut adalah umat Islam itu sangat menghargai waktu dengan cara beriman, beramal shaleh dan nasehat menasehti  dalam kebenaran dan  kesabaran. Ketika umat Islam mengamalkan perintah Allah dalam surat Al Asr ini maka berdampak positif menjadi hamba yang lebih produktif.  “Barangsiapa hari ini lebih baik dari hari kemarin, maka ia beruntung. Barangsiapa hari ini sama dengan hari kemarin, maka ia merugi. Barangsiapa hari ini lebih buruk dari hari kemarin, maka ia celaka/terlaknat)”.

Secara praktis dan matematis produktivitas  adalah perhitungan antara  output dibagi dengan input atau hasil yang didapatkan dibagi dengan sumber daya yang digunakan. Penguatan tuntunan dan tatanan dari firman Allah terutama dalam surat Al Baqarah ayat 183 dan surat Al Asr ayat 1-3 tersebut   bahwa ada interelasi dan interdependensi antara puasa dan produktivitas. Ada beberapa pandangan dan pemikiran yang relevan bahkan mendukungnya.

 

Pertama, pandangan ulama.  Menurut Imam Al Ghazali bahwa ada 3  tingkatan puasa yaitu (1) Puasa umum (menahan diri dari makan, minum dan hubungan suami dan istri), (2)   Puasa khusus (menahan diri dari dosa-dosa lisan dan perbuatan yang merusak pahala puasa), (3)  Puasa istimewa (memusatkan seluruh perhatian kepada Allah dan menjadikan setiap aktivitas sebagai ibadah).

Sebagai learning point  pandangan ulama Imam Al Gazali tersebut maka umat Islam ketika menjalankan ibadah puasa akan berdampak perilaku yang lebih produktif, pikiran yang lebih fokus pada  nilai ibadah dan pengendalian diri (hawa nafsu).

 

Kedua, pandangan ahli & praktisi. Bahwa menurut  Dr. Michael Mosley (The Fast Diet) bahwa puasa meningkatkan produksi Brain Derived Neutrophic Factor (BDNF) sehingga ibadah puasa memiliki pengaruh  meningkatkan daya ingat dan  kemampuan belajar. Ada juga Brian Tracy seorang  pakar manajemen waktu bahwa kunci produktivitas adalah mengatur jadwal kerja dengan baik. Dengan menjalankan ibadah puasa maka puasa mengoptimalkan manajemen waktu : lebih disiplin waktu kerja, waktu ibadah dan waktu untuk  istirahat. Selanjutnya Dr. Yoshinori Ohsumi (Pemenang Nobel Kedokteran 2016)  menjelaskan bahwa  puasa meningkatkan proses autophagy yaitu proses pembersihan sel-sel rusak dalam tubuh. Ada hubungan puasa dengan proses pembersihan sel-sel rusak dalam tubuh sehingga  tubuh akan lebih sehat, tubuh lebih bertenaga dan akhirnya individu tersebut lebih produktif.

Selagi kita punya kapabilitas dan kapasitas mari  saat ini kita jadikan :

  1. Puasa Ramadan bukan hanya ritual tahunan tetapi momentum perubahan ke arah yang lebih baik.
  2. Pribadi muslim yang lebih produktif : mulai dari personal, komunal, berbangsa dan bahkan berperadaban.
  3. Kompetensi kita digunakan untuk meningkatkan derajat ketakwaan dan produktivitas

Ramadan ini bukan ending point tetapi justru menjadi starting point untuk  beristiqomah dalam kebaikan dan kebenaran serta dapat  mewarnai 11 bulan berikutnya. Kita berharap dan bermunajat kepada Allah semoga  ibadah puasa diterima Allah, diberikan perlindungan dan kekuatan untuk melanjutkan rangkaian ibadah dan amaliyah  hingga akhir Ramadan sehingga menjadi pribadi yang bertakwa dan pribadi yang  produktif secara berkelanjutan. (Dikembangkan dari materi Khotbah Jumat di masjid Qolbun Saliim pada Jumat, 13 Maret 2026)

 

Ada pesta ada hadiah,

Hadiah dibuka isinya tas.

Indahnya berbagi ilmu dan hikmah,

Bersama tingkatkan produktivitas.

 

Bunga melati sungguh menawan,

Warnanya putih bersih.

Atas segala perhatian,

Kami ucapkan terimakasih

Tags :
Share :