(+62) 8129-2229-212

BSD Serpong, Tangerang Selatan

Ramadan Bulan Syiar Dakwah

Oleh : Suradi, SE, MM, CPS

Alhamdulillah puji syukur atas karunia Allah terutama nikmat iman dan nikmat Islam serta 2 nikmat yang sering manusia lalaikan yaitu nikmat sehat dan nikmat kesempatan untuk berbagi ilmu dan hikmah melalui berbagai media termasuk media kultum Taraweh ini. Semoga ibadah dan amaliyah Ramadan kita diterima Allah dan Allah berikan kekuatan untuk melanjutkan puasa hingga akhir Ramadan.

Approach. Sebagai landasan utama Ramadan bulan syiar dakwah berikut ini.

Perintah berpuasa di Ramadan :

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (Surat Al Baqarah 2 : 183)

Perintah syiar dakwah di jalan kebaikan dan beramar ma’ruf nahi munkar :

“Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Surat Ali Imran 3 : 104).

 

Mengapa Ramadan bulan syiar dakwah? Untuk merespon dan atau menjawab pertanyaan mengapa Ramadan bulan syiar dakwah, bisa ditinjau dari 3 dimensi yaitu dimensi keshalehan individual (habluminallah), keshalehan sosial (habluminnas dan habluminal ‘alam) dan keshalehan profesional (habluminnas dan habluminal ‘alam).

 

  1.  Dimensi keshalehan individual (habluminallah)

Bulan Ramadan bulan diturunkan Al Quran. Ramadan memiliki keistimewaan antara lain bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai imam, cahaya, petunjuk dan rahmat bagi manusia. Al-Qur’an adalah sumber utama syiar dakwah. Di bulan ini, umat Islam kembali lebih dekat dan lebih akrab dengan Al-Qur’an (membacanya, mentadabburinya dan mengamalkannya). Inilah inti dakwah untuk mengajak manusia kembali kepada petunjuk Allah.

Selain itu selama  Ramadan semangat ibadah secara umum meningkat. Masjid dan atau mushola  menjadi lebih makmur dengan kajian-kajian yang dipenuhi jamaah dan hati manusia lebih lembut menerima nasihat untuk berlomba dalam kebaikan. Momentum ini juga menjadi  kesempatan emas untuk menyampaikan ilmu dan hikmah tentang kebaikan dan kebenaran. Dengan semakin banyaknya jamaah dan semakin makmurnya masjid dan atau mushola maka Ramadan menjadi media promo dan publikasi syiar dakwah yang lebih efektif dan produktif.

  1. Dimensi keshalehan sosial (habluminnas dan habluminal ‘alam)

Ramadan adalah bulan berbagi. Kita melihat pemandangan yang indah dan penuh berkah ketika banyak orang bersedekah, berbagi ifthor berbuka puasa, membantu fakir miskin dan mempererat silaturahim. Banyak masjid dan atau mushola yang menyediakan ifthor berbuka puasa sehingga semakin dirasakan semangat jiwa kepedulian sosial sesama muslim dan muslimah. Usai berbuka puasa tetap menjaga dan mengutamakan kebersihan lingkungan masjid dan sekitarnya khususnya dampak meningkatnya sampah. Oleh karena itu banyak masjid yang mengkemas ifthor berbuka puasa ini dengan memperhatikan norma atau kaidah tetap ramah lingkungan.   Semua itu adalah bentuk syiar Islam yang nyata di tengah masyarakat.

  1. Dimensi keshalehan profesional

Ramadan mengajarkan dakwah melalui keteladanan. Puasa juga melatih kita untuk sabar, jujur, dan menahan amarah. Ketika seorang muslim menjaga  akhlak mulia ketika sedang berpuasa maka  itulah dakwah yang paling menyentuh melalui keteladanan perilaku atau role model  sehingga mengaktualisasikan dakwah bil hal atau  dakwah dengan perbuatan yang menjadi contoh bagi  umat yang lainnya. Ketika seseorang memiliki disiplin waktu yang tinggi, menjunjung tinggi nilai-nilai kejujuran, berintegritas dan bekerja atau beraktivitas secara cerdas maka orang tersebut mengaktualisasikan keshalehan profesional.

Oleh karena itu ketika Allah memberikan karunia kompetensi kepada kita yang mencakup skill, knowledge dan attitude sesuai kapabilitas dan kapasitas yang kita miliki maka potensi ini menjadi daya dorong, pemicu dan pemacu serta ladang penguatan syiar dakwah. Orang yang memiliki keshalehan profesional yang tinggi dapat memberikan manfaat bagi orang yang lain bahkan dapat menghadirkan rahmatan lil ‘alamin bagi alam dan lingkungan di sekitarnya yang saat ini kita mengenal sebuah konsepsi dan terapan tentang program global  Environment, Social & Governance (ESG).

 

Konklusi dan pesan moral pantun bernasehat.  Sebagai konklusi dari ilmu dan hikmah Ramadan bulan syiar dakwah dapat diformulasikan dalam “3 Jadikan.”

  1. Jadikan Ramadan bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan. Pesan moral :

Jalan-jalan ke Tangerang Selatan,

Ada taman kota yang menawan.

Jadikan Ramadan bukan hanya sebagai ritual tahunan,

Tetapi sebagai momentum perubahan.

  1. Jadikan pribadi kita, pribadi yang lebih baik

Pesan moral :

Bila tuan ke Surabaya,

Jangan lupa singgah ke Gresik.

Jadikan pribadi kita,

Pribadi yang lebih baik.

  1. Jadikan kompetensi kita (Skill, Knowledge, Attitude), penguat syiar dan dakwah

Pesan moral :

Kalaulah mau nanam pohon mangga,

Bolehlah ditanam di pinggir sawah.

Jadikan kompetensi kita,

Sebagai penguat syiar dan  dakwah.

 

Demikianlah spirit Ramadan bulan syiar dakwah ini tentu saja momentum ini bukan sebagai ending point justru menjadi starting point untuk tetap dan terus istiqomah dijaga dan diamalkan serta mewarnai  11 bulan berikutnya paska Ramadan.

Semoga setelah Ramadan berlalu, semangat dakwah dan kebaikan tetap hidup dan berkibar sehingga jalan syiar dakwah ini terasa menggembirakan dan memajukan umat Islam dan rahmatan lil ‘alamin.

Penulis : Suradi, SE, MM, CPS (Penyaji Kultum Taraweh Mushola Fatimah Cicentang pada Selasa, 3 Maret 2026)

Tags :
Share :